Monday, 23 March 2020

SISTEM PENGHANTARAN BUKAL

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai sistem penghantaran tablet bukal dimana diharapkan pembaca mampu memahami sistem penghantaran tablet bukal

.



SISTEM PENGHANTARAN BUKAL

 

Membran Mukosa Mulut dan Bukal

Membran mukosa mempunyai permukaan yang lembab yang terbentang pada dinding organ saluran pencernaan dan pernapasan, bagian dalam mata, nasal, rongga mulut dan organ genital. Ada tiga tipe mukosa mulut yaitu, masticatory, lining, dan mukosa spesial. Mukos masticatory menutupi gingiva dan palatal. Mukosa ini menekan epitelium yang berkeratinin ke jaringan dibawahnya dengan bantuan jaringan kolagen penghubung yang dapat menahan abrasi dan gaya tekan dari proses mengunyah. Lining mukosa menutupi semua area kecuali permukaan dorsal lidah dan ditutupi oleh epitelium nonkeratinasi sehingga lebih permeabel. Mukosa ini dapat berubah elastis dan dapat meregang untuk membantu berbicara dan mengunyah. Mukosa spesial yang berada di belakang lidah merupakan gabungan masticatory dan lining mukosa yang terdiri dari sebagian mukosa berkeratin dan sebagian mukosa nonkeratin.

Mukosa mulut terdiri dari epitelium yang ditutupi mukus dan terdiri dari stratum distendum, stratum filamentosum, stratum suprabasale dan stratum basal. Epitelium bisa terdiri dari lapisan tunggal (single layer) yang terdapat pada lambung, usus kecil dan usus besar serta bronkus, ataupun lapisan ganda (multiple layer) seperti pada esofagus dan vagina.

Bukal adalah bagian dari mulut yang membatasi secara anterior dan  lateral antara bibir dan pipi, secara posterior dan medial (tengah) antara gigi dan gusi serta di atas dan di bawah dari mukosa yang terbentang antara mulut, pipi dan gusi. Pembuluh arteri maksilaris mengedarkan darah ke mukosa bukal dan darah mengalir lebih cepat dan lebih banyak (2.4 ml/min/cm2) dari pada daerah sublingual, gingival dan palatal, sehingga memfasilitasi difusi pasif molekul obat melewati mukosa. Tebal dari mukosa bukal  antara  500  –  800  µm  dan  memiliki tekstur yang  kasar,  yang  cocok  untuk  sistem  penghantaran  obat  yang bersifat retensif. Pergantian epitelium bukal antara 5 – 6 hari.

Sistem Penghantaran Obat Bukal

Penghantaran obat melalui bukal adalah penghantaran melalui mukosa bukal, yang terletak di sepanjang pipi, untuk mencapai sirkulasi sistemik. Mukosa bukal kurang permeable jika dibandingkan dengan mukosa epitel usus, oleh karena itu penggunaan enhancer sebagai peningkat permeasi untuk bentuk sediaan bukal telah banyak digunakan. Diperkirakan bahwa permeabilitas mukosa bukal adalah 4-4000 kali lebih besar daripada kulit. Membran lipid pada mukosa mulut menahan masuknya makromolekul sehingga molekul-molekul kecil yang tidak terionisasi dapat melintasi membran ini dengan mudah.
Mekanisme Absorpsi Bukal
Mekanisme melintasnya obat melintasi membran lipid biologis diantaranya adalah difusi pasif, difusi terfasilitasi, transport aktif dan pinositosis. Mekanisme penghantaran obat pada mukosa bukal adalah difusi pasif yang melibatkan perpindahan dari zat terlarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah pada jaringan bukal. Absorpsi obat dari rongga mulut tidak sama dengan masuknya obat secara langsung ke sirkulasi sistemik karena obat seperti di simpan dalam membran bukal atau lebih dikenal dengan efek reservoir bukal. Sekresi saliva mengubah kinetika penyerapan bukal dari larutan obat dengan mengubah konsentrasi obat di dalam mulut.

Keuntungan Bucal Drug Delivery System
Keuntungan dalam penghantaran obat secara bukal adalah sebagai berikut, mudah dalam pemberian dan penghentian terapi; memungkinkan terjadi lokalisasi obat pada rongga mulut untuk periode waktu yang panjang; dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar; merupakan rute yang cocok untuk obat–obat yang mengalami efek lintas pertama yang tinggi sehingga obat tersebut dapat mencapai bioavailabilitas yang lebih baik; dosis obat dapat diturunkan sehingga memperkecil terjadinya efek samping; obat yang tidak stabil pada pH asam lambung ataupun yang tidak stabil pada pH basa usus dapat diberikan melalui penghantaran bukal; obat dengan bioavalabilitas yang rendah dapat diberikan dengan mudah.

Kekurangan Bucal Drug Delivery System
Kekurangan pada sistem penghantaran bukal adalah sebagai berikut, obat yang dapat mengiritasi mukosa mulut, pahit, dan berbau tidak dapat menggunakan sistem bukal; obat yang tidak stabil pada pH bukal tidak dapat dihantarkan dengan sistem ini; hanya untuk obat yang memiliki dosis rendah; obat dapat mengembang oleh saliva; makan dan minum dapat membatasi penghantaran obat; integritas struktur formulasi tergantung pada pengembangan dan hidrasi polimer bioadhesif.

Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..

Thursday, 19 March 2020

REGULASI OBAT TRADISIONAL

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik regulasi obat tradisional dimana diharapkan pembaca mampu memahami beberapa peraturan yang berkaitan dengan regulasi obat tradisional di Indonesia.

Beberapa regulasi seperti :



PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 007 TAHUN 2012 TENTANG REGISTRASI OBAT TRADISIONAL 



Meliputi : IZIN EDAR, PERSYARATAN REGISTRASI, TATA CARA REGISTRASI

Tujuan : Melindungi masyarakat dari peredaran obat tradisional yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, khasiat/manfaat, dan mutu.

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.06.11.5629 TAHUN 2011 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS CARA PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL YANG BAIK

PRINSIP
Industri obat tradisional harus membuat obat tradisional sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  NOMOR 006 TAHUN 2012  TENTANG  INDUSTRI DAN USAHA OBAT TRADISIONAL

Tujuan : Pengaturan industri dan usaha obat tradisional dengan memperhatikan keamanan, khasiat/ manfaat, dan mutu obat tradisional yang dibuat serta kejelasan jenis atau bentuk industri yang dibuat seperti IOT, IEBA, UKOT, UMOT, Usaha Jamu Racikan, dan Usaha Jamu Gendong.

Peraturan yang baru ini pada Pasal 8 menjelaskan bahwa Menteri memberikan ijin sesuai dalam Pasal 6 ayat (1) untuk : IOT dan IEBA kepada Direktur Jenderal, UKOT kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, UMOT kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Sehingga dalam implementasi di lapangan  dalam industri dan usaha obat tradisional sangat bermanfaat dan memberikan iklim usaha yang kondusif bagi produsen obat tradisional.

Industri Obat Tradisional yang selanjutnya disebut IOT adalah industri yang membuat semua bentuk sediaan obat tradisional.

Industri Ekstrak Bahan Alam yang selanjutnya disebut IEBA adalah industri yang khusus membuat sediaan dalam bentuk ekstrak sebagai produk akhir.

Usaha Kecil Obat Tradisional yang selanjutnya disebut UKOT adalah usaha yang membuat semua bentuk sediaan obat tradisional, kecuali bentuk sediaan tablet dan efervesen.

Usaha Mikro Obat Tradisional yang selanjutnya disebut UMOT adalah usaha yang hanya membuat sediaan obat tradisional dalam bentuk param, tapel, pilis, cairan obat luar dan rajangan.

Usaha Jamu Racikan adalah usaha yang dilakukan oleh depot jamu atau sejenisnya yang dimiliki perorangan dengan melakukan pencampuran sediaan jadi dan/atau sediaan segar obat tradisional untuk dijajakan langsung kepada konsumen.

Usaha Jamu Gendong adalah usaha yang dilakukan oleh perorangan dengan menggunakan bahan obat tradisional dalam bentuk cairan yang dibuat segar dengan tujuan untuk dijajakan langsung kepada konsumen.

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014

Tentang larangan memproduksi dan mengedarkan obat tradisional dan suplemen kesehatan yang mengandung coptis sp, berberis sp, mahonia sp, chelidonium majus, phellodendron sp, arcangelica flava, tinosporae radix, dan cataranthus roseus.

Tujuan:
Perlindungi dari peredaran obat tradisional dan suplemen kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, khasiat/manfaat dan mutu.

Kandungan alkaloid pada tumbuhan Coptis sp, Berberis sp, Mahonia sp, Chelidonium majus, Phellodendron sp, Arcangelica flava dan Tinosporae Radix dapat menyebabkan iritasi ginjal dan nefrotoksik serta Cataranthus roseus dapat menyebabkan depresi sumsum tulang.

Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor: HK.00.05.41. 1384 thn 2005

Obat tradisional, obat herbal terstandar, fitofarmaka yg dibuat atau diedarkan di wilayah Indonesia wajib memiliki izin edar dari Kepala Badan
Perkecualian :
ot, oht, fitofarmaka yg digunakan utk penelitian
ot impor untuk digunakan sendiri dlm jumlah terbatas
ot impor yg telah terdaftar dan beredar di negara asal utk tujuan pameran dlm jumlah terbatas
ot tanpa penandaan yg dibuat oleh usaha jamu racikan dan jamu gendong

bahan baku berupa simplisia dan sediaan galenik

Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..ataupun kalau ada saran/masukan dan pertanyaan bisa juga langsung dengan kmentar di bawah y...terimakasih

Wednesday, 18 March 2020

SANITASI DAN HYGINE

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik program sanitasi dan hygine dimana diharapkan pembaca mampu menjelaskan  program sanitasi dan hygine dalam CPOB
Pada kali ini akan dibahas :
Aspek Umum sanitasi dan hygine
1.      Prinsip
2.      Hygine perorangan
3.      Sanitasi dan fasilitas
4.      Pembersihan
5.      Validasi prosedur pembersihan dan sanitasi

PRINSIP
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, bahan pembersih dan desinfeksi, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.

HIGIENE PERORANGAN

Tiap personil yang masuk ke area pembuatan hendaklah mengenakan pakaian pelindung yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakannya.

Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan pakaian pelindung hendaklah diberlakukan bagi semua personil yang memasuki area produksi, baik karyawan purnawaktu, paruhwaktu atau bukan karyawan yang berada di area pabrik, misal karyawan kontraktor, pengunjung, anggota manajemen senior dan inspektur.

Untuk menjamin perlindungan produk dari pencemaran dan untuk keselamatan personil, hendaklah personil mengenakan pakaian pelindung yang bersih dan sesuai dengan tugasnya termasuk penutup rambut. Pakaian kerja kotor dan lap pembersih kotor (yang dapat dipakai ulang) hendaklah disimpan dalam wadah tertutup hingga saat pencucian, dan bila perlu, didisinfeksi atau disterilisasi.

Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan diadaptasikan terhadap berbagai kebutuhan di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah mencakup prosedur yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene dan pakaian pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi secara ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan pengawasan. Program higiene hendaklah dipromosikan oleh manajemen dan dibahas secara luas selama sesi pelatihan.

Semua personil hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat direkrut. Merupakan suatu kewajiban bagi industri agar tersedia instruksi yang memastikan bahwa keadaan kesehatan personil yang dapat memengaruhi mutu produk diberitahukan kepada manajemen industri. Sesudah pemeriksaan kesehatan awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja dan kesehatan personil secara berkala. Petugas pemeriksa visual hendaklah menjalani pemeriksaan mata secara berkala.

Semua personil hendaklah menerapkan higiene perorangan yang baik. Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene perorangan. Semua personil yang berhubungan dengan proses pembuatan hendaklah memerhatikan tingkat higiene perorangan yang tinggi.

Tiap personil yang mengidap penyakit atau menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah dilarang menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang diproses dan obat jadi sampai kondisi personil tersebut dipertimbangkan tidak lagi menimbulkan risiko.

Semua personil hendaklah diperintahkan dan didorong untuk melaporkan kepada atasan langsung tiap keadaan (pabrik, peralatan atau personil) yang menurut penilaian mereka dapat merugikan produk.

Hendaklah dihindarkan persentuhan langsung antara tangan operator dengan bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang terbuka, bahan pengemas primer dan juga dengan bagian peralatan yang bersentuhan dengan produk.

Personil hendaklah diinstruksikan supaya menggunakan sarana mencuci tangan dan mencuci tangannya sebelum memasuki area produksi. Untuk tujuan itu perlu dipasang poster yang sesuai.

Merokok, makan, minum, mengunyah, memelihara tanaman, menyimpan makanan, minuman, bahan untuk merokok atau obat pribadi hanya diperbolehkan di area tertentu dan dilarang dalam area produksi, laboratorium, area gudang dan area lain yang mungkin berdampak terhadap mutu produk.

PEMBERSIHAN DAN SANITASI PERALATAN

Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serta dijaga dan disimpan dalam kondisi yang bersih. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan.

Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan. Udara bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati dan bila mungkin dihindarkan karena menambah risiko pencemaran produk.

Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah- pindahkan dan penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang terpisah dari ruangan pengolahan.

Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi peralatan serta wadah yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah dibuat, divalidasi dan ditaati. Prosedur ini hendaklah dirancang agar pencemaran peralatan oleh agens pembersih atau sanitasi dapat dicegah. Prosedur ini setidaknya meliputi penanggung jawab pembersihan, jadwal, metode, peralatan dan bahan yang dipakai dalam pembersihan serta metode pembongkaran dan perakitan kembali peralatan yang mungkin diperlukan untuk memastikan pembersihan yang benar terlaksana. Jika perlu, prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan, penghilangan identitas bets sebelumnya serta perlindungan peralatan yang telah bersih terhadap pencemaran sebelum digunakan.

Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan inspeksi sebelum penggunaan peralatan hendaklah disimpan secara benar.

Disinfektan dan deterjen hendaklah dipantau terhadap pencemaran mikroba; enceran disinfektan dan deterjen hendaklah disimpan dalam wadah yang sebelumnya telah dibersihkan dan hendaklah disimpan untuk jangka waktu tertentu kecuali bila disterilkan.



VALIDASI PROSEDUR PEMBERSIHAN DAN SANITASI

Prosedur tertulis hendaklah ditetapkan untuk pembersihan alat dan persetujuan untuk penggunaan bagi produksi obat, termasuk produk antara. Prosedur pembersihan hendaklah rinci supaya operator dapat melakukan pembersihan tiap jenis alat secara konsisten dan efektif. Prosedur hendaklah mencantumkan:
a) Penanggung jawab untuk pembersihan alat;
b) Jadwal pembersihan, termasuk sanitasi, bila perlu;
c) Deskripsi lengkap dari metode pembersihan dan bahan pembersih yang digunakan termasuk pengenceran bahan pembersih yang digunakan;
d) Instruksi pembongkaran dan pemasangan kembali tiap bagian alat, bila perlu, untuk memastikan pembersihan yang benar;
e) Instruksi untuk menghilangkan atau meniadakan identitas bets sebelumnya;
f) Instruksi untuk melindungi alat yang sudah bersih terhadap kontaminasi sebelum digunakan;
g) Inspeksi kebersihan alat segera sebelum digunakan; dan

h) Menetapkan jangka waktu maksimum yang sesuai untuk pelaksanaan pembersihan alat setelah selesai digunakan produksi.



Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..ataupun kalau ada saran/masukan dan pertanyaan bisa juga langsung dengan kmentar di bawah y...terimakasih

Wednesday, 11 March 2020

PENGUJIAN MUTU FISIK GRANUL

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik pengujian mutu fisik granul dimana diharapkan pembaca mampu menjelaskan dan memahami metode mutu fisik granul meliputi sifat alir, kompresibilitas dan kompaktibilitas, serta kandungan air granul 
Sifat Alir
Definisi
Pengujian sifat alir sangat penting karena berhubungan dengan keseragaman pengisian ruang cetakan yang akan mempengaruhi keseragaman bobot keseragaman kandungan. Sifat dasar serbuk berpengaruh terhadap sifat alir yaitu:
  1. Ukuran partikel
  2. Distribusi ukuran partikel
  3. Bentuk partikel
  4. Kandungan lembap
1.    Ukuran partikel
Serbuk yang terdiri dari partikel halus umumnya memiliki sifat alir yang lebih buruk dibanding dengan ukuran partikel yang lebih besar. Partikel dengan ukuran >250 µm umumnya mengalir dengan baik.Tapi harus diperhatikan juga bahwa ukura partikel serbuk atau granul yang terlalu besar juga dapat menyebabkan masalah seperti homogenitas yang buruk.
2.    Distribusi ukuran partikel
Distribusi ukuran partikel yang sempit atau lebih mendekati monosize memiliki sifat alir yang lebih baik dibanding dengan serbuk yang polysize.
3.    Bentuk partikel
Partikel yang berbentuk bulat umumnya memiliki sifat alir yang lebih baik dibanding partikel dengan bentuk tidak beraturan. Bentuk partikel dapat diketahui dengan menggunakan bantuan alat, yaitu scanning electron microscopy (SEM)  
4.    Kandungan lembap

Kelembapan granul setelah proses granulasi basah perlu diperiksa karena jika kelembapan granul terlalu tinggi akan mengganggu aliran granul ke dalam lubang cetakan. Secara teknik, kelembapan granul menyebabkan granul melekat pada cetakan. Maka dari itu biasanya tablet yang dihasilkan juga buruk karena waktu dicetak lengket. Tapi tidak boleh terlalu kering juga ya karena dapat menyebabkan tablet/ granul menjadi rapuh ataupun ketika dicetak menjadi tablet yang memiliki bakat capping. Kelembapan yang ideal adalah 3-5%.

                                                 Gambar alat uji waktu alir


Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..ataupun kalau ada saran/masukan dan pertanyaan bisa juga langsung dengan kmentar di bawah y...terimakasih

Tuesday, 3 March 2020

PERALATAN DALAM CPOB

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik peralatan dimana diharapkan pembaca mampu menjelaskan peralatan dalam CPOB 
Prinsip Peralatan dalam CPOB yaitu peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets-ke-bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada mutu produk.




Desain dan konstruksi

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah memiliki rancang bangun dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat, sehingga mutu yang dirancang bagi tiap produk obat terjadi secara seragam.

Penataan peralatan di desain sedemikian rupa sehingga dalam satu ruangan hanya terdapat satu alat, ini bertujuan agar tidak terjadi pencemaran silang. Peralatan yang digunakan untuk produksi juga harus di desain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan. 

Peralatan tersebut hendaklah dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan dalam keadaan bersih dan kering.
Peralatan manufaktur hendaklah didesain, ditempatkan dan dirawat sesuai dengan tujuannya.

Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi atau absorbsi yang dapat memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan.

Bahan yang diperlukan untuk peng-operasian alat khusus, misalnya pelumas atau pendingin tidak boleh bersentuhan dengan bahan yang sedang diolah sehingga tidak memengaruhi identitas, mutu

Perawatan

Peralatan hendaklah dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi
atau pencemaran yang dapat memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.

Kegiatan perbaikan dan perawatan hendaklah tidak menimbulkan risiko terhadap mutu produk.

Bahan pendingin, pelumas dan bahan kimia lain seperti cairan alat penguji suhu hendaklah dievaluasi dan disetujui dengan proses formal.

Pelaksanaan perawatan dan pemakaian suatu peralatan utama hendaklah dicatat dalam buku log alat yang menunjukkan tanggal, waktu, produk, kekuatan dan nomor setiap bets atau lot yang diolah dengan alat tersebut. Catatan untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk saja dapat ditulis dalam catatan bets.

Peralatan dan alat bantu hendaklah dibersihkan, disimpan, dan bila perlu disanitasi dan disterilisasi untuk mencegah kontaminasi atau sisa bahan dari proses sebelumnya yang akan memengaruhi mutu produk termasuk produk antara di luar spesifikasi resmi atau spesifikasi lain yang telah ditentukan.



Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..

Monday, 2 March 2020

MIKROENKAPSULASI

Assalamualaikum Wr. Wb..

Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas teknologi formulasi sediaan farmasi mengenai MIKROENKAPSULASI. Diharapkan setelah membaca artikel pada blog ini kita semua sebagai pembaca bisa mengetahui dan mengerti apa itu mikroenkapsulasi dan metode atau proses mikroenkapsulasi.




Anda sudah pernah tahu atau mendengar tentang mikroenkapsulasi? Lalu apa hubungannya mikroenkapsulasi dengan teknologi formulasi sediaan farmasi? Apakah mikroenkapsulasi ada hubungannya dengan mikro partikel dan atau apakah kapsulasi yang dibahas di sini sama dengan proses penyalutan atau coating pada sediaan farmasi padat seperti tablet? Lalu eksipien atau bahan tambahan apa saja yang dapat digunakan sebagai bahan penyalut dan alat seperti apa yang bisa digunakan sebagai alat penyalut?..untuk lebih jelasnya mari kita bahas bersama- sama apa itu mikroenkapsulasi..

                                                         MIKROENKAPSULASI

Mikroenkapsulasi adalah teknologi untuk menyalut atau melapisi suatu zat inti dengan suatu lapisan dinding polimer, sehingga menjadi partikel-partikel kecil berukuran mikro. Dengan adanya lapisan dinding polimer ini, zat inti akan terlindungi dari pengaruh lingkungan luar. Bahan inti dapat berupa padatan, cairan atau gas. Mikrokapsul yang terbentuk dapat berupa partikel tunggal atau bentuk agregat dan biasanya memiliki rentang ukuran partikel antara 5-5000 mikrometer. Ukuran tersebut bervariasi tergantung metode dan ukuran partikel bahan inti yang digunakan.

Keuntungan dan kerugian mikrokapsul

a.    Keuntungan.
1)  Dengan adanya lapisan dinding polimer, zat inti akan terlindungi dari pengaruh lingkungan luar.
2)  Mikroenkapsulasi dapat mencegah perubahan warna dan bau serta dapat menjaga stabilitas zat inti yang dipertahankan dalam jangka waktu yang lama.
3)    Dapat dicampur dengan komponen lain yang berinteraksi dengan zat inti.

b.  Kerugian.
1)       Adakalanya penyalutan bahan inti oleh polimer kurang sempurna atau tidak merata sehingga akan mempengaruhi pelepasan zat inti dari mikrokapsul.
2)          Dibutuhkan teknologi mikroenkapsulasi.
3)       Harus dilakukan pemilihan polimer penyalut dan pelarut yang sesuai dengan bahan inti agar diperoleh hasil mikrokapsul yang baik.

 Tujuan mikroenkapsulasi
Proses mikroenkapsulasi memiliki beberapa tujuan, yaitu:
a.    Mengubah bentuk cairan menjadi padatan.
b.    Melindungi inti dari pengaruh lingkungan.
c.    Memperbaiki aliran serbuk.
d.    Menutupi rasa dan bau yang tidak enak.
e.    Menyatukan zat-zat yang tidak tersatukan secara fisika kimia.
f.      Menurunkan sifat iritasi inti terhadap saluran cerna.
g.    Mengatur pelepasan bahan inti.
h.  Memperbaiki stabilitas bahan inti.

Untuk lebih lengkapnya bisa kita diskusikan dengan komentar di bawah ya..

Mari berdiskusi formula rancangan kalian dengan komentar di bawah ya..

Saturday, 29 February 2020

FAST DISINTEGRATING TABLETS

Assalamualaikum Wr. Wb..

Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas teknologi formulasi sediaan padat mengenai FAST DISINTEGRATING TABLETS. Sebelumnya mungkin ada yang sudah pernah tahu atau pernah mendengar tentang fast disintegrating tablet atau biasa disingkat FDT? Kalau belum mari kita bahas bersama-sama apa iti FDT, apa saja bahan yang dibutuhkan untuk membuat FDT, bagaimana proses pembuatannya, dan bagaimana evaluasinya..


FDT atau fast disintegrating tablets adalah sediaan yang cepat melarut, dinamakan pula sistem penghantaran larut cepat (quick dissolving delivery systems, quick desintegrating, orally desintegrating, mouth dissolve dosage forms, or melt in mouth dosage form). Dalam waktu kurang dari satu menit, sediaan hancur atau melarut dalam cairan air liur di dalam mulut melepas obat dari eksipien. Keuntungan sediaan yang cepat larut adalah hancur tanpa air, bekerja cepat sesudah pemberian, mudah ditranspor, mudah ditangani, rasanya enak, dan meningkatkan penerimaan pasien.
Pada tahun 2008, FDA-Amerika Serikat mengeluarkan panduan Guidance for Industri: Orally Disintegrating Tablets. Ada 3 hal penting yang dikemukakan pada panduan tersebut, yaitu:
1.      Waktu hancur in vitro ODT kurang dari 30 detik (menggunakan alat uji waktu hancur USP atau alat yang ekuivalen).
2.      Biasanya berat tablet ODT tidak melebihi 500 mg dengan memperhatikan faktor berat, ukuran tablet, dan faktor kelarutan sehingga dapat dihasilkan tablet ODT yang dapat diterima oleh pasien dan peraturan yang berlaku.
3.      Waktu hancur dalam skala beberapa detik merupakan sasaran dari sediaan ODT.

Beberapa macam obat dapat dianggap sebagai kandidat yang cocok dengan sediaan ODT, di antaranya obat-obat neuroleptik, kardiovaskular, analgesik, antialergi, antiepilepsi, protein, peptida, anxiolitik, sedatif, hipnotik, diuretik, antiparkinson, antibakteri, anti malaria dan obat yang digunakan untuk disfungi ereksi.

Keuntungan dan kerugian
ODT memiliki beberapa keuntungan seperti mudah digunkan walaupun tidak tersediannya air, nyaman untuk digunakan oleh pasien yang sukar menelan seperti geriatri dan pediatri, bermanfaat untuk pengobatan dengan onset of action yang cepat, bioavaibilitas yang baik (Bhowmik et al., 2009).
Sediaan ODT memiliki kekurangan seperti diwajibkan harus tidak ada residu atau sisa tablet dalam mulut, diperlukannya teknologi yang dapat menutupi rasa obat yang pahit, rentan dengan kondisi lingkungan seperti temperatur dan kelembapan, sulit mendapatkan tablet yang kekerasan baik dan kerapuhan yang besar sehingga mempengaruhi pengemasannya (Velmurugan & Sundar, 2010).
Untuk lebih lengkapnya bisa kita diskusikan bersama dengan komentar di kolom komentar dibawah ya
Mari berdiskusi formula rancangan kalian dengan komentar di bawah ya..

Wednesday, 26 February 2020

SEDIAAN OBAT TRADISIONAL

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik obat tradisional. Diharapkan pembaca mampu memahami dan menjelaskan apa saja sediaan pada obat tradisional
Pada kali ini akan dibahas :
1.    succus
2.    teh herbal
3.    tingtur


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 006 Tahun 2012 tentang Industri dan Usaha Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 661 Tahun 1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional, obat tradisional terbuat dari campuran berbagai tumbuhan yang dapat dibuat menjadi bentuk sediaan yang bervariasi, di antaranya adalah: Rajangan, serbuk, pil, tablet, kapsul, dodol atau jenang, teh, succus, pastiles, sediaan cair dalam, dan sediaan semi cair luar.

Rajangan adalah sediaan obat tradisional berupa potongan simplisia, campuran simplisia, atau campuran simplisia dengan sediaan galenik, yang penggunaannya dilakukan dengan pendidihan atau penyeduhan dengan air panas. Disimpan dalam wadah tertutup baik, pada suhu kamar, di tempat kering dan terlindung dari sinar matahari.
Serbuk adalah sediaan obat tradisional berupa butiran homogen dengan derajat halus yang cocok, bahan bakunya berupa simplisia, sediaan galenik, atau campurannya.
Pil adalah sediaan padat obat tradisional berupa masa bulat, bahan bakunya berupa serbuk simplia, sediaan galenik, atau campurannya.
Dodol atau jenang adalah sediaan padat obat tradisional, bahan bakunya berupa serbuk simplisia, sediaan galenik atau campurannya.
Pastiles adalah sediaan padat obat tradisional berupa lempengan pipih umumnya berbentuk segi empat, bahan bakunya berupa campuran serbuk simplisia, sediaan galenik, atau campuran keduanya.
Kapsul adalah sediaan obat tradisional yang terbungkus cangkang keras atau lunak, bahan bakunya terbuat dari sediaan galenik dengan atau tanpa bahan tambahan.
Tablet adalah sediaan obat tradisional padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih, silindris, atau bentuk lain, kedua permukaannya rata atau cembung, terbuat dari sediaan galenik dengan atau tanpa bahan tambahan.
Cairan obat dalam sediaan obat tradisional berupa larutan emulsi atau suspensi dalam air, bahan bakunya berasal dari serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam.
Istilah teh atau tea (Inggris) umumnya mengacu pada daun teh (Camellia sinesis) yang dikeringkan (simplisia teh) dan direbus untuk minuman sehari-hari. Pada perkembangannya istilah teh mengalami perluasan makna, dari simplisia daun teh menjadi berbagai jenis simplisia lain yang digunakan untuk pengobatan.  Teh obat dibuat dari simplisia tunggal atau campuran simplisia tumbuhan obat. Teh obat umumnya dikonsumsi hanya dalam jangka waktu atau tujuan pengobatan tertentu.
Teh obat sebaiknya dibuat dari simplisia tunggal atau campuran simplisia yang terdiri dari 4-7 macam simplisia. Contoh berbagai teh obat dan penggunaannya dapat dilihat sebagai berikut.
a. Teh daun mint (Peppermint tea), digunakan untuk gangguan pencernaan seperti perut kembung atau rasa penuh di perut serta gangguan pencernaan yang terkait dengan saluran empedu.
b. Teh daun sena (Senna tea), digunakan untuk meningkatkan pergerakan isi perut dengan kekuatan sedang. Umumnya digunakan untuk pasien yang susah buang air besar (konstipasi) seperti pasien hemoroid atau pasien yang telah menjalani operasi usus besar.
c. Teh herba timi (Thymi tea); dibuat dari herba Thymus vulgaris, digunakan untuk pengobatan batuk kering (tanpa dahak).
Teh buah adas (Fennel seed tea), digunakan untuk perut kembung atau rasa penuh di perut.
e. Teh buah ketumbar (Coriander tea), digunakan untuk perut kembung atau rasa penuh di perut dan mengembalikan nafsu makan.
f. Teh kayu manis (Cinnamon tea), dibuat dari kulit kayu manis dan digunakan untuk perut kembung dan mengembalikan nafsu makan. Jika digunakan dalam bentuk campuran teh, teh kayu manis mampu memperbaiki rasa dan aroma teh campuran tersebut.
g. Teh valeria (Valerian tea), dibuat dari akar Valeriana officinalis dan digunakan untuk mengurangi kecemasan, gangguan istirahat serta susah tidur.
h. Teh jahe (Ginger tea); dibuat dari rimpang jahe dan digunakan untuk perut kembung, mengembalikan nafsu makan, dan mabuk perjalanan (motion sickness).


Mari berdiskusi ramuan atau formula obat tradisional dari daerah anda masing-masing beserta indikasinya dengan komentar di bawah ya..

Tuesday, 25 February 2020

METODE GRANULASI

Assalamualaikum Wr. Wb..
Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik granulasi pada teknologi formulasi sediaan padat. Diharapkan pembaca mampu memahami metode granulasi pada teknologi formulasi sediaan padat
Pada kali ini akan dibahas :
Apa itu granul dan granulasi, Bagaiman metide pembuatan granul, Metode pembuatan tablet: cetak langsung, granulasi basah dan granulasi kering beserta peralatannya

Kalian sudah ada yang tahu atau pernah mendengar granul atau granulasi? lalu mengapa semua bahan farmasi harus dibuat granul terlebih dahulu sebelum di cetak atau dikempa menjadi tablet atau kaplet? Mari kita membahasnya bersama-sama pada artikel kali ini...


Umumnya serbuk tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet karena pada serbuk biasanya terdapat karakteristik dan sifat-sifat berikut yang menyebabkan serbuk tersebut tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet, yaitu:
a. Serbuk kurang memiliki karakteristik ikatan atau lekatan (kohesif dan adhesif) yang baik secara bersama-sama menjadi kesatuan padatan yang kompak.
b. Serbuk biasanya tidak memiliki sifat lubrikasi dan disintegrasi yang dipersyaratkan untuk dicetak menjadi tablet.
c. Serbuk pada umumnya tidak atau kurang memiliki sifat mengalir bebas.

Selanjutnya yang dimaksud dengan granulasi serbuk adalah suatu proses membesarkan ukuran partikel kecil yang dicampur bersama-sama menjadi gumpalan yang lebih besar, lebih kuat, dan partikel masih teridentifikasi dan membuat gumpalan tersebut mengalir bebas.
Tujuan granulasi suatu serbuk adalah sebagai berikut:
a. Membuat bahan mengalir bebas
b. Memadatkan bahan
c. Membuat campuran menjadi lebih homogen
d. Memperbaiki karakteristik pengempaan bahan aktif
e. Mengendalikan laju pelepasan bahan aktif
f. Memberi kemudahan pengukuran atau dispersing voleme
g. Mengurangi debu
h. Memperbaiki penampilan tablet

Metode granulasi sendiri dapat dibedakan menjadi 3 metode yaitu metode granulasi basah, metode granulasi kering, dan metode kempa langsung atau cetak langsung.Tiap-tiap metoda tersebut mempunyai keuntungan dan keterbatasan. Namun demikian, terdapat cara yang sama pada ketiga metoda tersebut yaitu pada dua tahap pertama ketika melakukan penghalusan dan pencampuran komponen formulasi bersifat identik. Selanjutnya, proses pembuatan tablet pada tahap-tahap berikutnya akan berbeda Bagaimana proses dan perbedaan dari ketiga metode granulasi tersebut? mari kita bahas bersama ya..


Mari berdiskusi metode granulasi mana yang paling sederhana dan efisien menurut kalian dengan komentar di bawah ya..