Saturday, 19 September 2020

PRAKTIKUM SUSPENSI PART 2

 

2.3Zat Aktif

 2.3.1.Kaolin (Kaolinum Levis)

1.Monografi

Pemerian :Serbuk, putih, ringan, tidak mengandung butiran kasar,tidak atau hampir tidak berbau. (FI ed IV, hal 483)

2.Sifat Fisika dan Kimia

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam asam mineral.

                                                                                                            (FI ed IV, hal 483)

2.3.2.Pektin (Pectinum)

1.Monografi

Pemerian : Serbuk kasar atau halus, berwarna putih kekuningan, hampir tidak berbau, mempunyai rasa mucilage.         (FI ed IV, hal 654)

2.Sifat Fisika dan Kimia

Kelarutan :Hampir larut sempurna dalam 20 bagian air, membentuk cairan kental, opalesen, larutan koloidal, mudah dituang dan bersifat asam terhadap lakmus, praktis tidak larut dalam etanol atau pelarut organik lainnya. Pektin larut dalam air lebih cepat jika permukaan dibasahi dengan etanol, dengan gliserin, atau dengan sirupus simpleks, atau jika permukaan dicampur dengan 3 bagian atau lebih sukrosa.                                            (FI ed IV, hal 654)

3.Stabilitas

Disimpan dalam wadah tertutup rapat.

2.4 Zat Tambahan :

a.CMC Na

Kelarutan :Larut dalam air (pada semua temperatur), memberikan larutan jernih, praktis tidak larut dalam pelarut organik.

pH : 1 % larutan dalam air mempunyai pH 6 – 8,5. Stabil pada range pH 5 – 10. Viskositas musilago CMC Na menurun drastis pada pH < 5atau pH > 10. Musilago lebih peka terhadap perubahan pH dari pada metilselulosa.

Stabilitas : terhadap panas, CMC Na dapat disterilisasi dalam keadaan kering dengan mempertahankan suhu pada 160o C selama 1 jam, tetapi akan terjadi penurunan viskositas secara perlahan-lahan dan sifat-sifat larutan yang dibuat dari bahan yang telah disterilkan memburuk.

Kegunaan : CMC Na digunakan untuk suspending agent dalam sediaan cair (pelarut air) yang ditujukan untuk pemakaian eksternal, oral atau parenteral. Juga dapat digunakan untuk penstabil emulsi dan untuk melarutkan endapan yang terbentuk bila tinctur ber-resin ditambahkanke dalam air. Untuk tujuan-tujuan ini 0,25 % - 1 % atau 0,5 % - 2 %CMC Na dengan derajat viskositas medium umumnya mencukupi.

( Martindale 28th, 950-951)

b.Metil Paraben

Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak  berbau/berbau khas lemah. Penggunaan larutan oral : 0,015- 2 %. Kompatibilitas : aktivitas menurun dengan adanya surfaktan

(HOPE, hal 310,312).

2.5 Farmakologi Kaolin dan pektin

Kaolin dan pectin merupakan obat antidiare golongan adsorben yaitu dengan mengadsopsi bakteri, toksin dan gas dalam saluran cerna tetapi daya jerat (adsorpsi) tidak spesifik sehingga obat-obatan,  nutrient dan enzim dalam saluran cerna akan dijerat pula.

(Ganiswara, 2005, hal: 829).

1.Mekanisme Kerja

Kaolin dan pektin memiliki mekanisme kerja mengadsorpsi senyawa toksin dan bakteri dalam kolon saluran pencernaan.                             (Katzung edisi 6, 1998, hal: 996)

2.Penggunaan

Obat ini digunakan sebagai antidiare golongan adsorben (penjerat). (Ganiswara, 2005, hal: 515). Pengobatan untuk meringankan gejala diare dan pengobatan colitisulseratif kronik.                       (ISO Farmakoterapi, 2005, hal: 351)

3. Efek Samping,

 Kontra Indikasi dan Interaksi Obat. Efek samping: Konstipasi, diare, dan pusing ringan.                                                                                                   (ISO Vol 43, hal: 383).

Kontra Indikasi :

Hipersensitif , jangan diberikan kepada penderita dimaana konstipasi harus dihindar.                                                                                                        (ISO Vol 43, Hal 383).

Interaksi Obat :

Pemberian secara bersama kaolin dan pectin dengan obat-obat lain dapat mempengaruhi absorpsi dari obat-obat lain.                                     (Katzung edisi 6, 1998, hal: 995)

4.Dosis

Dewasa adalah 2 sendok makan, maksimum 12 sendok makan sehari

 Anak-anak : Di atas umur 12 tahun   :2 sendok makan, maksimum 8 sendok makan sehari.

 Antara 6-12 tahun : 1 sendok makan, maksimum 6 sendok makan sehari.

Pemberian setiap kali sesudah buang air besar.                       (ISO volume 40, 2005, hal 367)

No comments:

Post a Comment