Monday, 21 September 2020

MEMBUAT DISINFEKTAN BAG 2

 Assalamualaikum Wr. Wb..


Kali ini kita akan membahas lanjutan mengenai formula pembuatan disinfektan dimana diharapkan pembaca mampu memahami proses pembuatan disinfektan dan formulanya. Pada saat –saat ini masih konsen terhadap pencegahan penularan COVID-19 yah...mari kita terapkan hidup bersih dan terapkan aturan pemerintah soal physical distancing yah..

Dengan disinfeksi, setidaknya kita bisa melakukan pencegahan pandemi COVID-19, selain menjaga daya tahan tubuh dan melakukan physical distancing maka dari itu sangat penting sekarang untuk mempersiapkan atau menyediakan disinfektan di rumah masing- masing. Untuk mempermudah mendapatkan produk disinfektan karena semakin susah ditemukan di pasaran, ada baiknya kita membuat produk disinfektan sendiri. Bahan pembuatannya mudah didapat serta relatif murah dan proses pembuatannya pun mudah kok, bisa dengan peralatan dapur saja. Tapi perlu diingat buatnya jangan kebanyakan dan beli bahan disinfektan juga jangan banyak-banyak karena kita cuma membutuhkan sedikit saja dan supaya tidak terjadi kelangkaan di pasar ya..  

Untuk peralatannya kita bisa menggunakan gelas takar plastik, tutup obat cair yang ada takarnya, ataupun bisa menggunakan sendok takar obat. Jenis bahan disinfektan kimia bisa kita dapatkan dari produk yang biasa digunakan pada rumah tangga. Bahan aktif kimia disinfektan meliputi sodium hypoclorite dengan konsentrasi untuk disinfeksi sebesar 0,05-0,5%, benzalkonium klorid sebesar 0,05%, quaternary amonium sebesar 0,05%, chloroxylenol sebesar 0,12%, pine oil sebesar 0,23%, hidrogen peroksida sebesar 0,5%, dan etanol sebesar 62-71%.

Untuk membuatnya kita bisa encerkan agar mendapat konsentrasi yang tepat sesuai anjuran di atas. Maka dari itu berikut formula disifektan yang bisa kita buat dalam pembuatan 1 liter disinfektan:

chloroxylenol dengan konsentrasi sebesar 0,12%
chloroxylenol bisa kita dapatkan dari produk dettol antiseptic liquid sebanyak 25 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 975 mL.

quaternary amonium dengan konsentrasi sebesar 0,05%,
quaternary amonium bisa kita dapatkan dari produk bratacare disinfectane concentrate sebanyak 10 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 990 mL.

pine oil dengan konsentrasi sebesar 0,23%,
pine oil bisa kita dapatkan dari produk wipol pembersih lantai cemara sebanyak 95 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 905 mL.

hidrogen peroksida dengan konsentrasi sebesar 0,5%,
hidrogen peroksida bisa kita dapatkan dari produk vanish sebanyak 100 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 900 mL.

Agar diingat disinfektan ini hanya untuk digunakan untuk permukaan benda mati ya..bisa ditujukan untuk permukaan benda mati yang paling sering bersentuhan dengan tangan seperti keran air, kaca, gagang pintu, pegangan tangga, perabotan rumah, lantai, dll.

Perhatian: perhatikan tanggal kadaluarsa produknya ya sebelum digunakan dan jangan lupa menggunakan alat pelindung diri saat membuatnya. Direkomendasikan lama penyimpanan produk setelah dibuat cuma satu hari ya dan bisa disemprotkan sehari 2 kali, yaitu pagi hari dan sore hari.

Tidak lupa juga untuk tidak menyentuh benda mati yang telah disemprot disinfektan terlebih dahulu ya karena waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme adalah sekitar 30 sampai 60 detik.

Yang paling penting sekarang jaga jarak aman dengan orang lain minimal satu meter sesua anjuran pemerintah ya dan jaga kondisi kesehatan tubuh ya dengan rutin berolah raga, mengkonsumsi multivitamin atau berjemur sebentar di jam sekitar 10 pagi, istirahat yang cukup ..semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhir dan kita semua selalu dilindung oleh Tuhan yang maha esa...Aamin. Terimakasih sudah membaca artikel ini semoga bermanfaat...

MEMBUAT DISINFEKTAN BAGIAN 1

 Assalamualaikum Wr. Wb..


Pada kali ini kita akan membahas mengenai disinfektan dimana diharapkan pembaca mampu memahami apa itu disinfektan dan formulanya. Pada saat –saat ini  memang lagi gencar- gencarnya program disinfeksi untuk membunuh/ mengurangi mikroorganisme pada benda mati. Jadi kalau produk pembunuh mikroorganisme yang digunakan pada benda mati disebut disinfektan sedangkan produk yang digunakan pada benda hidup disebut antiseptik.

Dengan disinfeksi, setidaknya kita bisa melakukan pencegahan pandemi COVID-19, selain menjaga daya tahan tubuh dan melakukan physical distancing maka dari itu sangat penting sekarang untuk mempersiapkan atau menyediakan disinfektan di rumah masing- masing. Untuk mempermudah mendapatkan produk disinfektan karena semakin susah ditemukan di pasaran, ada baiknya kita membuat produk disinfektan sendiri. Bahan pembuatannya mudah didapat serta relatif murah dan proses pembuatannya pun mudah kok, bisa dengan peralatan dapur saja.  

Untuk peralatannya kita bisa menggunakan gelas takar plastik, tutup obat cair yang ada takarnya, ataupun bisa menggunakan sendok takar obat. Jenis bahan disinfektan kimia bisa kita dapatkan dari produk yang biasa digunakan pada rumah tangga. Bahan aktif kimia disinfektan meliputi sodium hypoclorite dengan konsentrasi untuk disinfeksi sebesar 0,05-0,5%, benzalkonium klorid sebesar 0,05%, quaternary amonium sebesar 0,05%, chloroxylenol sebesar 0,12%, pine oil sebesar 0,23%, hidrogen peroksida sebesar 0,5%, dan etanol sebesar 62-71%.

Untuk membuatnya kita bisa encerkan agar mendapat konsentrasi yang tepat sesuai anjuran di atas. Maka dari itu berikut formula yang bisa kita buat dalam pembuatan 1 liter disinfektan:

Sodium hypoclorite dengan konsentrasi sebesar 0,05-0,5%
sodium hypoclorite bisa kita dapatkan dari produk bayclin lemon, bayclin reguler, proclin pemutih, atau soklin pemutih sebanyak 10 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 990 mL. Bisa juga kita dapat dari clorox disinfecting bleach sebanyak 7 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 993 mL atau cloroc toilet bowl cleaner with bleach sebanyak 25 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 975 mL.
Dengan catatan bersihkan dengan kain basah setelah 10 menit dan bersifat korosif terhadap logam ya..

Benzalkonium klorid sebesar 0,05%,
benzalkonium klorid bisa kita dapatkan dari produk dettol pembersih lantai citrus atau dettol pembersih lantai multiaction 4 in 1 sebanyak 45 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 955 mL. Bisa juga kita dapat dari produk bebek kamar mandi sebanyak 500 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 500 mL atau SOS pembersih lantai antibacterial sebanyak 50 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 950 mL. Bisa juga kita dapat dari produk Mr. Muscle axi troguna pembersih lantai sebanyak 333 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 667 mL atau Wipol pembersih lantai sereh dan jeruk sebanyak 40 mL lalu mencampurnya dengan air sebanyak 960 mL.

Untuk disinfektan dan formula pembuatan lainnya kita bahas di pembahasan selanjutnya ya...agar diingat disinfektan ini hanya untuk digunakan untuk permukaan benda mati ya..bisa ditujukan untuk permukaan benda mati yang paling sering bersentuhan dengan tangan seperti keran air, kaca, gagang pintu, pegangan tangga, perabotan rumah, lantai, dll.

Perhatian: perhatikan tanggal kadaluarsa produknya ya sebelum digunakan dan jangan lupa menggunakan alat pelindung diri saat membuatnya. Direkomendasikan lama penyimpanan produk setelah dibuat cuma satu hari ya...

Yang paling penting sekarang jaga jarak aman dengan orang lain dan jaga kondisi kesehatan tubuh ya..semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhir dan kita semua selalu dilindung oleh Tuhan yang maha esa...Aamin. Terimakasih sudah membaca artikel ini semoga bermanfaat...

TABLET

 Assalamualaikum Wr. Wb..

Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai sediaan padat farmasi yaitu tablet, dimana diharapkan pembaca mampu menjelaskan dan memahami apa itu tablet, macam dan komposisi pembuatnya atau yang biasa disebut dengan formula.
TABLET

Tablet adalah bentuk sediaan padat yang terdiri dari satu atau lebih bahan obat yang dibuat dengan cara pengempaan. Tablet tersusun oleh bahan aktif dan bahan tambahan. Pada proses pembuatan tablet, bahan-bahan tersebut akan mengalami beberapa rangkaian proses tergantung dari metode pembuatan yang digunakan. Metode pembuatan tablet ada dua macam yaitu kempa langsung dan granulasi. Proses granulasi sendiri ada dua macam yaitu granulasi basah dan granulasi kering.

Saat ini di masyarakat beredar beberapa jenis tablet. Adapun jenis-jenis tablet tersebut di antaranya adalah :
1. Tablet bukal dan sublingual
Tablet bukal adalah tablet yang digunakan dengan cara meletakkan tablet tersebut di antara pipi dan gusi. Sedangkan tablet sublingual adalah tablet yang digunakan dengan meletakkan tablet tersebut di bawah lidah. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh sifat beberapa bahan aktif yang mudah larut dalam cairan mulut seperti nitrogliserin dan hormon steroid.
2. Tablet efervesen
Penggunaan tablet ini adalah dengan melarutkannya terlebih dahulu dalam air. Pada saat dilarutkan akan dihasilkan gas karbondioksida yang merupakan hasil reaksi antara kandungan asam dan basa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu pula maka saat penyimpanan tablet ini harus disimpan dalam wadah yang rapat dan tahan lembab untuk mencegah kedua bahan tersebut bereaksi.
3. Tablet kunyah
Tablet ini ketika digunakan harus dikunyah terlebih dahulu. Jenis ini biasanya banyak digunakan untuk bahan aktif yang ditujukan bagi anak-anak seperti multivitamin. Selain itu ada juga yang ditujukan untuk jenis sediaan antasida dan beberapa antibiotik. Dalam formulasinya maka sediaan ini mengandung pemanis sehingga saat dikunyah memberikan rasa enak di mulut.
4. Tablet multilapis (multilayered)
Tablet ini memiliki 2 atau 3 lapisan obat dalam satu tablet. Jenis tablet ini banyak digunakan untuk membuat tablet salut kempa bagi pengobatan di daerah kolon.
5. Tablet vaginal
Tablet ini digunakan dengan memasukkannya ke dalam vaginal. Pelepasan obatnya biasanya lambat selama 20 sampai 30 menit yang biasanya digunakan untuk terapi infeksi atau penggantian hormon.
6. Tablet hancur cepat (fast-disintegrating)
Tablet ini akan hancur dengan cepat ketika dilarutkan dalam air. Kondisi ini akan memudahkan bagi pasien anak-anak atau orang tua yang membutuhkan pengobatan dalam dosis rendah.
7. Tablet hisap (Lozenges)
Tablet ini akan melarut secara perlahan-lahan di dalam mulut. Kondisi ini akan memudahkan dalam menelan obat dan sekaligus dapat mengendalikan kecepatan pelepasan obat.
    
       Komposisi Tablet
Tablet terdiri atas bahan aktif berkhasiat dan bahan lainnya yang disebut dengan bahan tambahan atau eksipien. Jenis dan fungsi dari bahan tambahan tersebut ada berbagai macam yaitu:
1. Pengisi
Bahan bersifat inert yang ditambahkan ke dalam formula tablet untuk penyesuaian berat akhir tablet. Contoh bahan adalah laktosa.
2. Pengikat (binders)
Bahan ini akan meningkatkan daya lekat antar partikel dalam formula tablet sehingga dalam proses pengempaan akan membentuk masa yang mampat. Contoh bahan misalnya mucillago amyli dan solutio gelatin.
3. Penghancur (disintegrant)
Bahan ini bertugas untuk membantu hancurnya tablet setelah ditelan oleh pasien. Penambahannya dapat dilakukan dengan dimasukkan dalam masa granul atau di luar granul atau dibagi dua sehingga ada yang ikut digranul dan ada yang tidak. Contoh bahan ini adalah amilum kering.
4. Pelicin
Bahan ini digunakan untuk mengurangi gesekan antar partikel. Ada tiga jenis dari bahan ini yaitu glidant (membantu mengalirnya campuran bahan ketika dalam hopper atau corong alimentasi) dan lubricant (mencegah gesekan antara tablet dengan dinding die ketika dikempa dan gesekan antara dinding die dengan dinding punch). Contoh bahan ini antara lain talk, magnesium stearat.
5. Pendapar
Bahan ini ditambahkan untuk menjaga stabilitas atau menetralkan bahan aktif yang ada dalam tablet. Bahan ini misalnya ditambahkan pada sediaan children buffered aspirin chewable tablet.
6. Pemanis
Bahan ini sangat diperlukan dalam formulasi tablet kunyah. Dengan adanya bahan ini maka akan memberikan rasa manis di mulut. Contoh bahannya adalah sukrosa dan manitol.
7. Pembasah
Bahan ini ditambahkan untuk meningkatkan kelarutan bahan yang bersifat hidrofobik. Penambahannya bisa dengan dimasukkan ke dalam cairan penyalut atau berupa serbuk yang ikut digranul. Contoh bahannya adalah natrium lauril sulfat.
8. Penyalut
Bahan penyalut ditambahkan untuk memperoleh tablet salut lapis tipis atau salut gula atau salut enterik.
9. Pembentuk matriks
Bahan yang ditambahkan untuk membantu mengatur pelepasan bahan aktif.
10. Pewarna
Bahan pewarna ditambahkan untuk tujuan estetika sediaan, memudahkan dalam identifikasi produk atau membantu dalam proses pencampuran.

Mari berdiskusi formula tablet yang kalian ketahui dengan komentar di bawah ya..

UJI MUTU FISIK TABLET

 Assalamualaikum Wr. Wb..

Welcome to my Course


Pada kali ini kita akan membahas mengenai sediaan padat farmasi yaitu Uji mutu fisik tablet, dimana diharapkan pembaca mampu menjelaskan dan memahami apa saja pengujian mutu fisik tablet beserta metodenya.

  UJI MUTU FISIK TABLET

Uji mutu fisik tablet merupakan parameter penting dalam formulasi untuk mengetahui karakteristik tablet yang dihasilkan. Pemeriksaan fisik tablet setidaknya meliputi uji keseragaman kandungan, kekerasan tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur, dan uji disolusi secara in vitro.

1. Uji keseragaman kandungan
Uji keseragaman kandungan dipersyaratkan untuk semua bentuk sediaan dengan dosis dan perbandingan zat aktif kurang dari 25 mg atau kurang dari 25%. Uji keseragaman kandungan berdasarkan pada penetapan kadar masing-masing kandungan zat aktif dalam suatu sediaan untuk menetapkan apakah kandungan masing-masing terletak dalam batasan yang ditentukan. Uji keseragaman kandungan harus memenuhi yang dipersyaratkan yaitu jika simpangan baku relatif (SBR) kadar dari zat aktif pada sediaan akhir tidak lebih dari 2%. SBR kadar adalah simpangan baku relatif kadar per satuan sediaan (b/b atau b/v) dengan kadar tiap satuan sediaan setara dengan hasil penetapan kadar tiap satuan dibagi dengan bobot dibagi dengan bobot masing-masing satuan sediaan (Depkes RI, 2014).
Keseragaman kandungan memenuhi syarat jika nilai penerimaan 10 unit sediaan pertama tidak kurang atau sama dengan L1%. Jika nilai penerimaan lebih besar dari L1%, lakukan pengujian pada 20 unit sediaan tambahan dan hitung nilai penerimaan. Memenuhi syarat jika nilai penerimaan akhir dari 30 unit sediaan lebih kecil atau sama dengan L1% dan tidak ada satu unitpun kurang dari [1-(0,01)(L2)]M atau tidak satu unitpun  lebih dari [1+(0,01)(L2)]M seperti yang tertera pada perhitungan nilai penerimaan. Nilai penerimaan maksimum yang diperbolehkan yaitu L1=15,0 kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi atau L2=25,0 kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi (Depkes RI, 2014)  

Perhitungan nilai penerimaan dengan rumus: NP = [M-Xrata-rata]+ks
NP       = Nilai penerimaan

Xrata-rata = Rata-rata kandungan dari masing-masing kandungan
k          = Konstanta penerimaan, jika n=10 maka k=2,4 dan n=30 maka k=2,0
s           = Simpangan baku sampel   
M         = Jika 98,5% ≤ Xrata-rata  101,5% maka M= Xrata-rata
    Jika Xrata-rata < 98,5% maka M= 98,5%
    Jika Xrata-rata < 101,5% maka M= 101,5%

2. Kekerasan tablet

Kekerasan adalah kemampuan dari granul yang dikempa menjadi suatu tablet dengan kekuatan pada regang tertentu. Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui kemampuan granul saling melekat menjadi massa yang kompak, digunakan mesin tablet single punch dengan tekanan yang diatur berdasarkan kedalaman punch atas turun ke ruang die (Siregar & Wikarsa 2010). 
Uji kekerasan tablet dilakukan dengan meletakkan tablet dengan posisi tegak lurus pada hardness tester. Kekerasan tablet (kg) ditunjukkan pada skala sampai tablet hancur atau pecah (Bandari et al., 2008).

3. Kerapuhan tablet
Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Uji kerapuhan tablet berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar nilai persentase kerapuhan, semakin besar pula massa tablet yang hilang. Kerapuhan tablet dianggap cukup baik bila hasilnya kurang dari 0,8 % (Fudholi & Hadisoewignyo, 2012).
Sebanyak 20 tablet dibebasdebukan dan ditimbang kemudian dimasukkan dalam alat friability tester diputar dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Tablet dibebasdebukan dan ditimbang lagi. Kerapuhan dihitung berdasarkan prosentase perbandingan selisih bobot sebelum dan sesudah pengujian dengan bobot awal. Batas kerapuhan yang diterima untuk sediaan ODT yaitu 0,1% - 0,9% (Bandari et al., 2008).

4. Waktu hancur
Waktu hancur tablet adalah waktu yang dibutuhkan untuk hancurnya teblet dalam medium yang sesuai sehingga tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kasa alat uji. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur adalah sifat fisika kimia granul dan kekerasan tablet, kecuali dinyatakan lain, waktu hancur tablet tidak bersalut tidak boleh lebih dari 15 menit.
Uji waktu hancur tablet dilakukan dengan cara sebanyak 6 tablet dimasukkan dalam alat disintegration tester dengan suhu 37±2oC. Alat dijalankan naik turun dan waktu yang dibutuhkan tablet untuk hancur dinyatakan sebagai waktu hancur (Widjaja et al., 2013).

5. Uji disolusi secara in-vitro
Disolusi adalah proses melarutnya zat aktif (bahan obat) dalam sediaan obat ke dalam suatu medium. Tablet akan mengalami proses disintegrasi pada saat obat kontak dengan cairan tubuh, yaitu hancurnya tablet menjadi suatu granul dan dilanjutkan dengan hancurnya agregat menjadi partikel penyusunnya. Uji disolusi mempunyai beberapa tujuan untuk optimasi formula dan kontrol rutin setelah fabrikasi (Fudholi, 2013). Uji disolusi juga merupakan salah satu pengujian yang penting dilakukan untuk mengetahui profil dan kinetika pelepasan bahan obat dari sediaan yang selanjutnya dapat untuk mengetahui karakteristik suatu formula dan mengevaluasi formula terbaik.
Pengungkapan hasil kecepatan disolusi obat dalam suatu medium dengan disolusi efisiensi (DE). DE adalah perbandingan luas di bawah kurva disolusi dengan luas segi empat seratus persen zat aktif larut dalam medium pada saat tertentu (Fudholi, 2013).


DE       Dissolusi Efisiensi pada saat t
y dt      : Luas di bawah kurva zat aktif yang terlarut pada saat t
y100     : Luas segi empat 100% zat aktif larut dalam medium untuk waktu t
Untuk tablet dapat digambarkan seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar contoh kurva jumlah obat terdisolusi versus waktu.




Mari berdiskusi dengan komentar di bawah ya..

SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS PELAYANAN KESEHATAN

 Assalamualaikum Wr. Wb..

Welcome to my Course

Pada kali ini kita akan membahas mengenai topik SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS PELAYANAN KESEHATAN dimana diharapkan pembaca mampu memahami peraturan yang berkaitan dengan SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS PELAYANAN KESEHATAN di Indonesia.


SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS PELAYANAN KESEHATAN

Peraturan ini tercantum pada PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 003/MENKES/PER/I/2010
Saintifkasi Jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.
Jamu adalah obat tradisional Indonesia.
Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan
Pengobatan Komplementer-Alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum diterima dalam kedokteran konvensional.
Tujuan pengaturan saintifikasi jamu adalah:
a. Memberikan landasan ilmiah (evidence based ) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.
b. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif melalui penggunaan jamu.
c. Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu.
d. Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.
Ruang lingkup saintifikasi jamu diutamakan untuk upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif.
Saintifikasi jamu dalam rangka upaya kuratif hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis pasien sebagai komplementer-alternatif setelah pasien memperoleh penjelasan yang cukup.
Jamu dan/atau bahan yang digunakan dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan harus sudah terdaftar dalam vademicum, atau merupakan bahan yang ditetapkan oleh Komisi Nasional Saintifikasi Jamu.
Jamu harus memenuhi kriteria:
a. aman sesuai dengan persyaratan yang khusus untuk itu;
b. klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris yang ada; dan
c. memenuhi persyaratan mutu yang khusus untuk itu.
Fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk saintifikasi jamu dapat diselenggarakan oleh Pemerintah atau Swasta meliputi:
Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud meliputi:
a. Klinik pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan.
b. Klinik Jamu.
c. Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T).
d. Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat (BKTM)/Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat (LKTM).
e. Rumah Sakit yang ditetapkan.
Klinik pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan ditetapkan sebagai Klinik Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri ini dan mengikuti ketentuan persyaratan Klinik Jamu Tipe A.
Klinik jamu dapat merupakan praktik perorangan dokter atau dokter gigi maupun praktik berkelompok dokter atau dokter gigi.
Fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk
1) Klinik Jamu terdiri dari :
a. Klinik Jamu Tipe A
b. Klinik Jamu Tipe B
(2) Klinik jamu tipe A harus memenuhi persyaratan:
a. Ketenagaan yang meliputi :
1) Dokter sebagai penanggung jawab
2) Asisten Apoteker.
3) Tenaga kesehatan komplementer alternatif lainnya sesuai kebutuhan.
4) Diploma (D3) pengobat tradisional dan/atau pengobat tradisional ramuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional yang diakui Departemen Kesehatan.
5) Tenaga administrasi.
b. Sarana yang meliputi:
1) Peralatan medis
2) Peralatan jam
Memiliki ruangan :
a) Ruang tunggu.
b) Ruang pendaftaran dan rekam medis (medical record).
c) Ruang konsultasi/pelaksanaan penelitian.
d) Ruang pemeriksaan/tindakan.
e) Ruang peracikan jamu.
f) Ruang penyimpanan jamu.
g) Ruang diskusi.
h) Ruang laboratorium sederhana.
i) Ruang apotek jamu.
(3) Klinik Jamu tipe B harus memenuhi persyaratan:
a. Ketenagaan yang meliputi :
1) Dokter sebagai penanggung jawab
2) Tenaga kesehatan komplementer ­alternatif lainnya sesuai kebutuhan.
3) Diploma (D3) pengobat tradisional dan/atau pengobat tradisional ramuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional yang diakui Departemen Kesehatan.
4) Tenaga administrasi.
Sarana yang meliputi:
1) Peralatan medis.
2) Peralatan jamu.
3) Memiliki ruangan :
a) Ruang tunggu dan pendaftaran.
b) Ruang konsultasi, pemeriksaan/tindakan/penelitian dan rekam medis (medical record).
c) Ruang peracikan jamu.
(4) Tenaga pengobat tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) hanya merupakan tenaga penunjang dalam pemberian pelayanan jamu.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman Klinik Jamu ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan.

Jika ada yang mau ditanyakan atau ingin berdiskusi bisa langsung dengan komentar di bawah ya.. terimakasih

Saturday, 19 September 2020

PRAKTIKUM SUSPENSI PART 2

 

2.3Zat Aktif

 2.3.1.Kaolin (Kaolinum Levis)

1.Monografi

Pemerian :Serbuk, putih, ringan, tidak mengandung butiran kasar,tidak atau hampir tidak berbau. (FI ed IV, hal 483)

2.Sifat Fisika dan Kimia

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam asam mineral.

                                                                                                            (FI ed IV, hal 483)

2.3.2.Pektin (Pectinum)

1.Monografi

Pemerian : Serbuk kasar atau halus, berwarna putih kekuningan, hampir tidak berbau, mempunyai rasa mucilage.         (FI ed IV, hal 654)

2.Sifat Fisika dan Kimia

Kelarutan :Hampir larut sempurna dalam 20 bagian air, membentuk cairan kental, opalesen, larutan koloidal, mudah dituang dan bersifat asam terhadap lakmus, praktis tidak larut dalam etanol atau pelarut organik lainnya. Pektin larut dalam air lebih cepat jika permukaan dibasahi dengan etanol, dengan gliserin, atau dengan sirupus simpleks, atau jika permukaan dicampur dengan 3 bagian atau lebih sukrosa.                                            (FI ed IV, hal 654)

3.Stabilitas

Disimpan dalam wadah tertutup rapat.

2.4 Zat Tambahan :

a.CMC Na

Kelarutan :Larut dalam air (pada semua temperatur), memberikan larutan jernih, praktis tidak larut dalam pelarut organik.

pH : 1 % larutan dalam air mempunyai pH 6 – 8,5. Stabil pada range pH 5 – 10. Viskositas musilago CMC Na menurun drastis pada pH < 5atau pH > 10. Musilago lebih peka terhadap perubahan pH dari pada metilselulosa.

Stabilitas : terhadap panas, CMC Na dapat disterilisasi dalam keadaan kering dengan mempertahankan suhu pada 160o C selama 1 jam, tetapi akan terjadi penurunan viskositas secara perlahan-lahan dan sifat-sifat larutan yang dibuat dari bahan yang telah disterilkan memburuk.

Kegunaan : CMC Na digunakan untuk suspending agent dalam sediaan cair (pelarut air) yang ditujukan untuk pemakaian eksternal, oral atau parenteral. Juga dapat digunakan untuk penstabil emulsi dan untuk melarutkan endapan yang terbentuk bila tinctur ber-resin ditambahkanke dalam air. Untuk tujuan-tujuan ini 0,25 % - 1 % atau 0,5 % - 2 %CMC Na dengan derajat viskositas medium umumnya mencukupi.

( Martindale 28th, 950-951)

b.Metil Paraben

Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak  berbau/berbau khas lemah. Penggunaan larutan oral : 0,015- 2 %. Kompatibilitas : aktivitas menurun dengan adanya surfaktan

(HOPE, hal 310,312).

2.5 Farmakologi Kaolin dan pektin

Kaolin dan pectin merupakan obat antidiare golongan adsorben yaitu dengan mengadsopsi bakteri, toksin dan gas dalam saluran cerna tetapi daya jerat (adsorpsi) tidak spesifik sehingga obat-obatan,  nutrient dan enzim dalam saluran cerna akan dijerat pula.

(Ganiswara, 2005, hal: 829).

1.Mekanisme Kerja

Kaolin dan pektin memiliki mekanisme kerja mengadsorpsi senyawa toksin dan bakteri dalam kolon saluran pencernaan.                             (Katzung edisi 6, 1998, hal: 996)

2.Penggunaan

Obat ini digunakan sebagai antidiare golongan adsorben (penjerat). (Ganiswara, 2005, hal: 515). Pengobatan untuk meringankan gejala diare dan pengobatan colitisulseratif kronik.                       (ISO Farmakoterapi, 2005, hal: 351)

3. Efek Samping,

 Kontra Indikasi dan Interaksi Obat. Efek samping: Konstipasi, diare, dan pusing ringan.                                                                                                   (ISO Vol 43, hal: 383).

Kontra Indikasi :

Hipersensitif , jangan diberikan kepada penderita dimaana konstipasi harus dihindar.                                                                                                        (ISO Vol 43, Hal 383).

Interaksi Obat :

Pemberian secara bersama kaolin dan pectin dengan obat-obat lain dapat mempengaruhi absorpsi dari obat-obat lain.                                     (Katzung edisi 6, 1998, hal: 995)

4.Dosis

Dewasa adalah 2 sendok makan, maksimum 12 sendok makan sehari

 Anak-anak : Di atas umur 12 tahun   :2 sendok makan, maksimum 8 sendok makan sehari.

 Antara 6-12 tahun : 1 sendok makan, maksimum 6 sendok makan sehari.

Pemberian setiap kali sesudah buang air besar.                       (ISO volume 40, 2005, hal 367)